KANG MAS DYAN'S BLOG: RASA BERSALAH DAN PENYESALAN DALAM MEKANISME PENYADARAN

Blogroll

RASA BERSALAH DAN PENYESALAN DALAM MEKANISME PENYADARAN

Ketika kita dihadapkan pada suatu rasa bersalah, bukan karena dipersalahkan atau ditunjukkan kesalahan kita oleh orang lain, kemanapun kita lari atau dimanapun kita bersembunyi ia akan selalu membuntuti. Sungguh tidak mengenakkan, ia menghukum, ia merenggut ketentraman, ia merampas kedamaian hati. Pernahkan kita merasa demikian? Semoga saja tidak.

Rasa bersalah adalah awal kebajikan. Ia bentuk lain dari pengakuan kita tentang betapa indah dan membahagiakannya kebajian dan kebenaran itu. Bersamaan dengan kemunculannya, muncul pula sebentuk ‘keemohan’ untuk melakukan apapun yang bisa menimbulkannya lagi di benak kita. Kita menginginkan yang berlawanan dengan rasa itu. Disinilah akan muncul pertobatan. Sejak munculnya pertobatan, benih kebajikan benar-benar mulai tersemaikan kembali di hati kita.

Paradigma yang sama, belum tentu terjadi pada semua orang. Ia tidak muncul dengan sendirinya tanpa hadirnya kesadaran atau keinsyafan. Masalah bisa jadi lain bilamana ia dihadirkan dengan paksa oleh karena dipersalahkan atau ditunjukkan oleh pihak luar. Ia bisa jadi kurang efektif, karena ke-aku-an akan menolaknya. Kendati seseorang tampak sebagai ‘pecinta’ kebajikan, namun bilamanake-aku-annya mulai tersentuh, apalagi sampai ditelanjangi kesalahan-kesalahannya, maka ia akan berontak hebat. Pemberontakan ini tidak harus terekspresi ke luar secara frontal, bisa hanya sebagai sentakan yang menimbulkan gejolak hebat di dalam. Si aku akan mencari berbagai dalih atau alasan untuk membela diri atau mencari kambing hitam agar kesalahan itu tidak sepenuhnya ditimpakan pada dirinya. Memang tampakknya tidak rasional, namun demikianlah yang tampak sering terjadi terkait dengan ke-aku-an (egoisme) ini. Ini seolah-olah di luar wilayah rasio, ia telahmemasuki wilayah emosi.

Kebijakan maupun kejahatan seringkali dilakukan orang semata-mata oleh adanya dorongan emosi atau rasa sentimen yang kuat, dengan mana rasio atau akal sehat terkesampingkan. Bilamana kita mencoba meneropongnya lewat akal sehat saja, kita malah bisa merasa dibenturkan pada suatu dinding tebal. Kita mendapat kesulitan dalam menemukan alasan-alasan logis yang dapat merasionalisasikanny. Ia bak suatu misteri bagi akal sehat kita. Mungkin ini yang menyebabkan mengapa Mahatma Gandhi mengungkapkan kegundahannya dengan mengatakan: “Selalu merupakan misteri bagiku, bagaimana manusia merasakan penghargaan atas dirinya dengan cara menghina sesamanya”.

Rasa bersalah memang tidak bisa kita kaitkan langsung dan sederhana hanya dengan penalaran sebagai pembeda benar dan salah, baik dan buruknya saja. Ia merupakan sisi unik manusia yang muncul dari paduan kreatif antara emosi dan rasio, mungkin bisa dibilang demikian. Sekedar sebagai contoh: ketika seseorang atau sekelompok orang menghinanyang lainnya, terjadi sejenis ramuan kreatif antara rasio dan emosi atau sentimen dalam benak si penghina. Ia punya alasan-alasan logis untuk menghina, sebanak agitasi-agitasi sentimental dan emosionalnya. Mungkin ramuan seperti inilah yang disebut rasa atau feeling dalam bahasa inggris. Ia lebih berpihak pada naluri-naluri rendah (rajas dan tamas) kita, ketimbang intuisi (citta) dan sifat-sifat luhur (sattvam) kita.

Dari perspektif ini, ketika seseorang melakukan tindak kejahatan kecil maupun besar, hatinya ada dalam keadaan yang sedmikian gelap dan tumpulnya oleh dominasi rajas dan tamas, sehingga tak dapat merasakan rasa ini. Yang jelas, rasa kasih dan empati tidak hadir disitu. Ia sedang dikuasai oleh kebencian (dvesa) dan kemarahan (krodha)-nya. Dalam dominasi bentuk-bentuk emosi ini, akal sehat (buddhi) praktis tersingkirkan. Ia tak punya landasan pijakannya di sini.

Di sini kita lebih menyoroti sisi positif dan konstruktif dari rasa bersalah ini, karena memang demikian tujuan kita menjadi lebih positif dan lebih konstruktif dari waktu ke waktu. Dimaklumi juga bahwa rasa bersalah yang berlarut-larut sungguh menggangu. Ia menghadirkan depresi yang berkepanjangan. Dan bilamana ini terjadi keseluruhan hidup kita hanya terisi oleh penyesalan saja.

Untuk menanggulangi dampak buruk dari rasa bersalah serupa ini, ada yang menganjurkan pemaafan diri dan melepaskan atau melupakanya saja. Toh kita telahbertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Ini mungkin bisa banyak membantu orang untuk tidak mengalami depresi yang berkepanjangan akibat penyesalanya itu. Namun ada satuhal yang patut diwaspadai juga di sini. Ada orang yang cnderung selalu memaafkan dirina sendiri dan selalu minta dimaafkan, sementara ia terus-menerus melakukan kesalahan tanpa pernah mau mengoreksi dirinya sendiri. Yang iniagak khusus, sehingga anjuran pemaafan diri kurang tepat, bahkan malah berakibat lebih parah lagi bagi mereka. Sikap seperti ini lahir dari apa yang disebut dengan rasa iba diri. Yang satu ini bersifat kontraproduktif terhadap kemunculan rasa bersalah ini. Namun, pada dasarnya itu hanya disebabkan oleh masih absensina keinsyafan diri.

Lagi-lagi harus diakui betapa pentingnya kesadaran diri di sini. Hanya manakala kita benar-benar insyaflah akal sehat bisa berfungsi betapa mestinya. Dalam kesadaran, kita akan melakukan introspeksi atau mawas diri. Dalam kesadaran hadir kewaspadaan dan perhatian yang proporsional terhadap segala gejolak internal yang muncul sebagai reaksi terhadap agresi atau agitasi luar. Akal sehat pun otomatis akan berfungsi dengan baik yang memungkinkan untuk memunculkan rasa bersalah, pengakuan dan pertobatan. Keinsyafan atau kesadaranlah landasan dari kehadiran semua itu. Inilah yang menyelamatkan kita dari rasa bersalah, bahkan dari melakukan kesalahan itu sendiri. Ia meniadakan akar penyebab dari rasa bersalah dan penyesalan itu.

Sumber: www.iloveblue.com

No comments:

Post a Comment

Don't forget to give your's comennt :)
Thanks for a lot

Copyright © KANG MAS DYAN'S BLOG Urang-kurai